Photobucket - Video and Image Hosting
Wednesday, February 25, 2009


Wanita Talonang
sulit melihat masa depan

Dia, seorang wanita transmigran di Desa Talonang Baru, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat

Sebenarnya manis, bekerja di lahan luas,
memiliki rumah sendiri dan terutama memiliki harapan besar tentang penghidupan keluarga atas usaha pertaniannya
Namun langkah transmigrasi yang dicanangkan pemerintah tak berjalan demikian mulus

Desa Talonang Baru sungguh jauh dari peradaban
Untuk sampai kesana, kita harus menyebrang sungai 5 kali dengan satu sungai yang cukup besar dan tak bisa dilewati jika pasang
Belum lagi, jalannya bukanlah jalan mulus yang bisa dilewati sebarang mobil
Hanya mobil 4WD yang bisa melewati jalan penuh batu, tanjakan curam dan panjang serta jalanan tanah yang licin

Jadi, meski mereka pernah panen labu besar-besaran,
tak ada akses untuk menjual hasil bumi itu
hingga membusuk di depan halaman
seperti uang yang menguap di depan mata.


dhank Ari at 4:28 AM



Sunday, February 15, 2009

Saya memang harus berani menghadapi hari esok. Saya justru harus menjadikan ini sebagai tonggak keberanian saya di hari-hari berikutnya.

Apalagi, saya memiliki Dewi, sang malaikat cinta. Tak ada lagi yang bisa melecut semangat saya kecuali dia. Tak ada lagi yang bisa menemani saya sedemikian hebat seperti dia.

Saya juga masih memiliki keyakinan pada Allah swt. Saya masih ingin beribadah kepadaNya. Saya masih ingin meningkatkan kualitas keimanan saya dan bertobat atas seluruh dosa besar saya.

Jadi saya memang harus berani, dan saya memang berani.


dhank Ari at 12:21 AM





Semenjak semalam, ada berita kurang menggembirakan. Persediaan darah di PMI dan RSCM tipis. Saya hanya dapat 1 kantong saja, jumlahnya sekitar 275 cc.

Mulai pagi tadi, saya dan Dewi mulai mengabari teman-teman dan keluarga. Kami mencari siapa saja yang bisa dan mau menjadi donor untuk darah golongan O. Alhamdulillah, sampai siang tadi sudah ada belasan calon donor.

Terima kasih kepada Mas Iwan, Ade Lisa, Mami Pesing, Mama Bandung, Wahyu Mul, Beski, Hamzah, Aryo, Jim, TBA, Gatut, Lola ama Nita. Semoga bantuan kalian dicatat dengan baik oleh malaikat dan Allah swt.


dhank Ari at 12:15 AM



Friday, February 13, 2009

Dalam perjalanan roda nyawa, saya sudah merasakan banyak sekali ketakutan. Seperti saat ini.

Apa mungkin saya pengecut? Mungkin saja. Saya tidak tahu.

Papap pernah bicara pada saya suatu hari.
"Kamu takut?"
"Sedikit, Pap."
"Kenapa?"
"Gak tahu."
"Karena kamu gak tahu dan gak yakin. Kalau kamu tahu dan yakin, mungkin ketakutan kamu berkurang. Tapi takut itu wajar kok. Papap juga sering takut."

Papap pernah melarang saya bermain terlalu asyik dengan alat pahat. Saat itu saya berontak. Kenapa saya tak bisa diberi kebebasan untuk melakukan apa yang saya mau? Kenapa dia seakan tidak percaya jika saya bisa mengoperasikan alat pahat itu tanpa melukai tangan saya? Belakangan saya mengerti. Kita memang memerlukan rasa takut agar kita bisa waspada. Papap mungkin melihat saya menganggap enteng alat pahat dan pisau-pisau itu hingga dia khawatir saya tidak waspada.

Rasa takut memang penting, agar saya waspada. Saya merasakannya betul pada banyak hal yang saya lakukan. Tapi, entahlah. Beberapa kali pula, rasa takut itu justru sangat berlebih sehingga saya menjadi urung melakukan banyak hal.

Seperti ketakutan saya saat ini. Ketakutan ini sebenarnya sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Ketakutan berlebih yang membuat saya urung melakukan hal yang sangat penting dalam hidup saya.

Beruntung, saya memiliki istri yang sangat hebat. Berkat dialah, saya mencoba untuk mengusir ketakutan itu dan akhirnya saya siap untuk melakukan hal yang sebenarnya harus saya lakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Terima kasih, ya Allah, atas titipan istri terbaik untukku. Saya berharap, saya bisa menebus semua kesalahan dan ketakutan saya di masa lampau. Saya sadar bahwa melawan ketakutan kali ini bukanlah hal yang mudah saya lewati. Tapi saya pasrah pada kuasaMu, ya Allah dan saya tahu jika Kau tahu yang terbaik bagi saya.


dhank Ari at 5:11 AM



Wednesday, January 09, 2008

Sekilas Mata
tak pernah ingin berlalu

Mata ini kerap memandangi sosokmu yang menawan.

Setiap pagi, saat terbangun dari tidur.
Setiap malam, saat kau tertidur terlebih dahulu.
Setiap imajimu melintas, mendahului suaramu di balik gagang telepon.

Tak pernah ingin berlalu dari itu semua.
Terutama karena cinta ini semakin menggebu.


dhank Ari at 7:25 AM



Thursday, January 03, 2008


Ubay
Siswa Kelas Sekolah Darurat Kartini

Nama aslinya Muhammad Aris Subadillah. Tapi, nama itu tak akrab di telinga teman-temannya. Mereka biasa memanggil dia Ubay; entah darimana asalnya.

Jadi begitulah. Dia pun kerap dipanggil Ubay dan mulai terbiasa dengan panggilan itu. Nama itu pulalah yang muncul dari mulutnya saat saya menanyakan namanya. Ubay.

Pertama kali saya melihatnya, langsung ada daya tarik luar biasa; daya tarik untuk mengajaknya bicara setelah pelajaran selesai.

Waktu itu, saya sedang sibuk dibalik lensa. Jepret sana, jepret sini; mencari objek foto yang menarik. Sampai tibalah saya di sebuah ruang kelas darurat dengan segala macam kekurangan itu; salah satu ruang darurat di Sekolah Darurat Kartini (pimpinan Ibu Kembar Bu Rosie dan Bu Rian) yang hanya ditutupi kain terpal biru dengan meja dan kursi yang sudah nyaris roboh. Tak ada dinding permanen di situ, hanya lempengan-lempengan triplek dan kayu seadanya.

Di ruangan itu saya lihat ada satu orang anak yang demikian serius belajar. Dialah Ubay, murid kelas 1 yang duduk di barisan paling depan.

Di kelas Ubay, Bu Rosie sedang mengajar bahasa Indonesia. Anak-anak diminta menyusun kalimat tanya dari beberapa kata yang ditulis di papan tulis. Ada lima kata, kalau saya tidak salah; buku, pensil, sepatu, tas dan rautan. Bu Rosie memberi waktu 20 menit pada anak-anak itu.

Setelah Bu Rosie berkeliling ke beberapa kelas lain dan kembali ke kelasnya Ubay, pemeriksaan pun dimulai. Tibalah giliran Ubay. Saya berada persis di depan Ubay dan di belakang Bu Rosie.
"Mana kalimat kamu, Ubay?"
"Ini Bu." Dengan penuh semangat, Ubay memperlihatkan kalimat-kalimat yang dia tulis dalam buku.
"Ini salah, Bay. Kalimat tanya harus bertanya, bukan memberi tahu."

Ubay, yang penuh rasa ingin tahu, tak menerima penjelasan Bu Rosie begitu saja. Dia bertanya kembali, dengan kejujuran sikap dan kepolosan seorang anak. Bu Rosie kembali menjelaskan dan Ubay pun tertunduk kembali pada bukunya. Sambil mengeja kata-kata yang dia tulis, Ubay mencoba menarik perhatian Bu Rosie untuk mendengarkan sususan kalimatnya yang baru. Bu Rosie pun terpetik perhatiannya. Namun, masih saja salah kalimat Ubay.Tapi Ubay tak mau menyerah, sampai akhirnya Bu Rosie membimbingnya kata demi kata. Baru Ubay tersenyum puas, berhasil membuat kalimat tanya, berhasil menyelesaikan tugas dari gurunya.

Usia Ubay baru 5 tahun. Ubay adalah satu diantara anak-anak miskin yang sekolah gratis di Sekolah Darurat Kartini; berlokasi di lapangan kosong samping Taman Impian Jaya Ancol. Setiap hari, kadang dia diantar Ibu atau Bapaknya, tapi seringnya dia pergi sendiri atau berdua dengan Ela, teman sekelasnya yang 1 tahun lebih tua. Rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah ini. Namun Ubay harus berjalan kaki setidaknya selama setengah jam.

Ketika saya tanya, "Biasanya pergi sama siapa?"
Ubay menjawab, "Biasa sama Ela (sambil menunjuk ke arah Ela). Gak jauh kok, ke arah sana tuh...(menunjuk lagi ke sebuah arah yang samar, menurut saya)"
"Memang Ibu kemana?"
"Ah, kasian Ibu!! Ibu harus gendong adek..."


dhank Ari at 3:42 PM



Friday, June 29, 2007

Dzikir
tak harus dalam sholat

Kadang tercuci otak bahwa dzikir hanyalah membaca doa saat terduduk dalam ritual sholat.
sungguh mulia pemikiran istriku; dzikir adalah makanan batin sehari-hari yang tak sukar didapat. Seluruhnya ada di sekeliling kita.

Melihat gedung tinggi menjulang, Subhanallah! Allah menciptakan intelejensi yang luar biasa bagi manusia, hingga gedung tinggi itu ada di depan kita.

dan banyak lagi....

dewi bahkan menambahkan, "banyak berdzikir membuat hati lebih tenang."

masuk akal sekali; jadi merasa malu, karena seringkali lupa berdzikir atas sesuatu yang nyata terlihat setiap saat oleh pandang mata ini.

Tidak. Hati ini tak ingin lagi buta.


dhank Ari at 6:29 AM



Thursday, May 03, 2007

...040507...

hidup kadang seperti manis coklat yang berlebihan.
tak lama setelah kelezatan, rasa itu justru seringkali mencekatmu.


dhank Ari at 8:15 PM





Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Sepatu Osaga
Elegi Telanjang Kaki

Saya ingat waktu masih kecil, saya minta dibelikan sepasang sepatu Osaga. Waktu itu, kelas 3 SD, kalau saya tidak salah. Bukan karena saya tak punya sepatu lagi karena sepatu saya rusak atau koyak, melainkan karena teman-teman saya banyak yang pergi ke sekolah dengan memakai sepatu Osaga.

Jiwa kompetisi anak kecil yang tak mau kalah keren itu pun kemudian muncul. Suatu sore, sepulang dari sekolah, saya mengajukan permintaan khusus pembelian sepatu. Khusus, karena saya tahu ini bukanlah saatnya membeli sepatu (lagi). Mama waktu itu tak banyak bicara dan memilih untuk menyerahkan keputusannya pada Bapak. Malam harinya, Bapak mengiyakan permintaan saya. Entah kenapa demikian mudah. Mungkin, Bapak merasa toh ini demi pendidikan saya juga. Jadi, faktor-faktor pendukung agar saya tetap pergi ke sekolah sebaiknya tak dihambat. Mungkin, itulah pemikiran Bapak.

Tak lama, sepatu Osaga itu sudah saya pakai ke sekolah. Dengan gagahnya. Belajar jadi semangat. Belum lagi, saya tak merasa malu lagi berjalan di depan Femi, seorang gadis cilik yang waktu itu sempat saya suka. Saya merasa telah memiliki katalis dalam hari-hari sekolah saya.
Tapi, coba bandingkan dengan anak-anak di Desa Talonang Jaya, Sekongkang, Sumbawa Barat ini. Mereka tetap pergi ke sekolah meski tak memiliki Osaga. Mereka bahkan tak memiliki sepatu sama sekali, yang butut sekalipun. Mereka tetap pergi ke sekolah meski dengan keterbatasan terbesar sekalipun. Tak ada rasa malu dan tak ada rasa iri meski beberapa teman mereka sudah ada yang memakai sepatu. Tak merasa malu mereka meski mereka telanjang kaki.

Alangkah mewahnya masa kecil saya hingga saya bisa mengistimewakan keberadaan sepatu di kaki saya. Alangkah bersahaja dan bermaknanya keseharian anak-anak ini karena mereka banyak melakukan hal-hal yang jujur dan penuh dedikasi, tanpa memikirkan banyak hal remeh temeh seperti egoisme. Mereka juga memiliki egoisme, tapi memilih untuk menyimpannya saja dulu demi hal lain yang lebih penting.

Ayo belajar, tak peduli apa, meski kau tidak memiliki sepatu!


dhank Ari at 5:44 AM



Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

____penyuka :
jazz
puisi
sastra

____jejak setapakku :
+dalam gambar
+dalam puisi
+dalam menjelajah
+dalam jalin teman

____teman :
+Ade Pepe
+abe
+alaya
+bagus
+brewok
+budi
+buyung
+dewi kekasihku
+d juice
+desan
+didit
+dita
+djim
+dreamer
+e
+fira
+gendhot
+iebud
+ienk
+indie
+irma
+kang masanom
+luigi
+mona
+nita
+ochan
+poppi
+penyair kelana
+rieka +steyla
+smara
+yuhyi
+yunus

uncle 2B

by wdcreezz.com

Name

Email/URL

Message

____tulisan terdahulu:

code
here


Designer
LX