Photobucket - Video and Image Hosting
Monday, August 09, 2010

Jakarta, 7 Juli 2010

Ada satu nama yang menyihir saya bertahun-tahun.

Diego Armando Maradona.

Dialah orang pertama yang tidak saya kenal, tapi mampu meyakinkan saya jika sepakbola adalah sesuatu yang sangat indah. Bahwa sepakbola adalah titisan kebahagiaan yang tiada terkira.

Saya pun lantas bermain bola, seperti ingin menyamai Maradona. Dimanapun saya menendang bola, imaji Maradona itu selalu ada di kepala saya. Tak pernah mau lepas. Sampai akhirnya saya pun ingin sekali mengenakan kostum bernomor 10 setiap kali bermain bola.

Inilah dhank Ari, pemain bola debutan dari pemukiman padat Negla, Ledeng.

Gol demi gol saya cetak ke gawang lawan. Mulai dari gol dari bola plastik yang sering bikin merah kaki jika ditendang terlalu keras, bola tenis yang kadang luput ditendang karena terlampau kecil dan lincah, bola bliter (alias bola kulit) yang kadang terasa demikian berat apalagi saat sudah mulai mengempes, bola karet berbagai ukuran yang arah lesatannya kadang melenceng dari jalur dan tak sesuai dengan yang diharapkan, hingga bola-bola kertas yang sengaja saya buat saat bola-bola itu tak terbeli atau hilang atau sedang teronggok rusak di pojokan rumah.

Sesekali kami nakal.

Bola voli atau bola basket kami gunakan juga untuk bermain bola sepak, sebelum akhirnya kami berdiri salah tingkah di ruang guru setelahnya, mendengarkan satu dua petuah yang diselingi sekaan keringat yang terus mengucur di sekujur wajah dan tubuh kami.

Esoknya, kami seringkali lupa dimarahi dan kembali mencari celah mencicipi lagi bola-bola yang dibuat untuk diakrabi tangan, bukannya kaki.

Belakangan, saya malu mengenakan kostum nomor 10. Skill sepakbola saya tak maju-maju. Gocek lawan, memang bisa, sesekali lumayan jago malah. Membobol gawang lawan juga seringkali tak sulit. Apalagi, mengumpan pada rekan di lapangan, saya seperti tak tertahankan. Tapi, tetap saja, saya merasa skill sepakbola saya tak mumpuni. Bukti kasat matanya adalah rekan-rekan saya sendiri di lapangan. Masih banyak yang nyatanya lebih jago bermain bola daripada saya. Sementara saya, seperti terdampar di kelompok pemain bola dengan kemampuan rata-rata saja. Apalagi, saya lemah sekali dalam menyundul bola.

Dari situlah, saya memilih untuk mengenakan nomor 11 saja.

Spontan.

Saya ingin mengeramatkan nomor 10. Itu nomor hanya untuk Maradona saja. Saya tak berhak membalutkannya di badan saya. Makanya, saya sempat kecewa sekaligus ragu ketika nomor 11 itu sudah keburu diambil Olwin saat kami membela kesebelasan Trans TV di Piala Media pada pertengahan tahun 2002, sementara saya kebagian nomor 10, nomornya Maradona. Saya jadi ragu berlari lepas di lapangan, takut membuat kecewa Maradona.

Tapi, berbicara tentang rasa kecewa, saya kembali merasakannya akhir pekan lalu di bangku kursi nyaman dalam ruangan berpendingin, di depan layar lebar yang memperlihatkan sosok Maradona berkali-kali dengan ukuran yang besar dalam tayangan pertandingan sepakbola Piala Dunia antara Argentina melawan Jerman.

Maradona tak bermain kali ini.

Ia adalah pelatih tim Argentina.

Rasa kecewa itu mulai muncul saat Klose mencetak gol kedua Jerman. Riuh semangat yang tadi masih membara, meski Argentina masih tertinggal 0-1, mulai perlahan kehilangan banyak kepingnya.

Saya mulai kehilangan suara untuk berteriak lantang, menyemangati Argentina.

Apalagi saat pertandingan itu berakhir 0-4, untuk kemenangan tim Jerman.

Coke dan pop corn yang sudah habis saya santap itu seakan menjadi hambar dan hanya akan menjadi sampah tak berguna di usus saya. Jarak yang harus saya tempuh untuk pulang ke rumah pun seperti jauh sekali dan harus melewati gurun pasir dan bukit berbatu. Kaos Argentina bernomor punggung 11 yang terpampang setengah kering di rumah pun seperti ingin segera saya pakai dan ajak berbincang kembali.

Saya kecewa bukan main.

Tapi, Maradona memang ajaib, di mata saya.

Meski saya kecewa demikian dalam, tak pernah saya membenci Maradona. Termasuk ketika saya menangis kecil di depan televisi pada pertengahan tahun 1990, gara-gara tendangan penalti Andreas Brehme yang melesak masuk ke gawang Argentina dan membuat Maradona dan Argentina harus puas jadi juara dua di Piala Dunia 1990. Atau ketika Argentina hancur di Piala Dunia 1994, gara-gara Maradona yang nakal tertangkap memakai doping.

Hanya saja, gara-gara Maradona tak jadi lari telanjang di Buenos Aires, sesuai nazarnya jika ia bisa membawa Argentina juara dunia, saya jadi tak bisa tidur nyenyak di ranjang selama beberapa malam.

Sampai tadi malam.

Dan entah malam ini atau malam esok.


dhank Ari at 7:24 AM



Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

____penyuka :
jazz
puisi
sastra

____jejak setapakku :
+dalam gambar
+dalam puisi
+dalam menjelajah
+dalam jalin teman

____teman :
+Ade Pepe
+abe
+alaya
+bagus
+brewok
+budi
+buyung
+dewi kekasihku
+d juice
+desan
+didit
+dita
+djim
+dreamer
+e
+fira
+gendhot
+iebud
+ienk
+indie
+irma
+kang masanom
+luigi
+mona
+nita
+ochan
+poppi
+penyair kelana
+rieka +steyla
+smara
+yuhyi
+yunus

uncle 2B

by wdcreezz.com

Name

Email/URL

Message


code
here


Designer
LX