Monday, August 09, 2010
Jakarta, 4 Mei 2010Saya terbilang sering membuat istilah secara spontan.
Salah satu yang paling spontan dan akhirnya membekas demikian dalam adalah AYTEHS, singkatan dari Apapun Yang Terjadi Elo Hadapin Saja.
Waktu itu hujan, di tengah tahun 1996.
Bukan hujan air yang dilepaskan langit untuk membasuh luka para hati terluka di bumi, melainkan hujan kegelisahan. Wajah-wajah muda yang duduk rapih tepat di hadapan saya, di ruang kelas K.101, Fakultas Teknik UI, adalah bukti nyata jika hujan memang sedang berlangsung seperti badai. Sama dengan hujan yang sedang terjadi di pekarangan saya yang paling pribadi.
Tak semata deras hujan itu, tak pula gerimis.
Dan saya tak ingin meneruskan hujan itu. Saya sungguh tak ingin menutup pintu terlalu cepat bagi jiwa-jiwa baru yang (saya yakin) masih memiliki semangat yang baru saja matang. Tak ingin saya membiarkan semangat itu terlanjur dingin, apalagi basi. Saya harus menghentikan hujan itu. Apapun caranya.
Ada Iwan di samping saya. Akbar berdiri gelisah di tepi pintu bersama Elfisar. Beberapa teman lain merapat di belakang kelas, enggan membuat suara.
Beberapa menit sebelumnya, hujan memang mencapai puncaknya. Hujan yang akhirnya membuat kami banyak kehabisan kata, padahal pagi harinya kami masih kebanjiran kata-kata.
Saya tak menyangka jika kami akan mendapatkan serangan mendadak siang itu.
Wajah-wajah muda itu sedang berbaris rapih. Suara lantang Iwan dan Akbar saling mengisi di tengah kosongnya sejengkal tanah lapang berumput di depan Gedung GK. Sambil panas matahari sesekali menggigit.
Saya memperhatikan dari belakang, bersama Bagonk dan Heri.
Hujan mulai rintik saat sudut mata kiri saya merasakan ada kehadiran yang terburu-buru sekelompok orang dari arah jam 8.
Saya kontan menoleh.
Saya lihat sekelompok orang itu adalah para pejabat Jurusan Sipil FTUI, dipimpin oleh Ketua Jurusan, Pak Budi Susilo.
Gawat, pikir saya. Apa yang harus saya katakan padanya?
Sebelum sempat memberi kesempatan pada kata-kata yang sudah perlahan dirancang di dalam pikiran itu untuk terucap, tangan kanan Pak Budi sudah menjambak leher kaos kesayangan saya dan merapatkan jambakannya itu pada dada saya sambil mengangkatnya mendesak dagu. Saya nyaris tercekik!
“Sudah saya bilang kemarin untuk hentikan!! Tidak ada MABIM!! Kamu sudah janji pada saya kemarin!! Ingat? Ini apa? Kenapa masih ada yang begini? Bubarkan mereka!! Suruh masuk kelas!! Dan kamu, jangan lagi melawan saya! Ngerti?”
Hujan sudah turun. Deras pula tak tertahankan.
Iwan dan Akbar lantas membubarkan barisan dan wajah-wajah muda itu pun kembali ke ruang kuliah. Saya mengikuti sambil memikul hujan itu di pundak. Jefry, Yulius dan Heri terlihat memaki di ujung penglihatan saya. Bagonk meringis kesal, yang saya rasa bisa mewakili perasaan teman-teman yang lain.
“Elo musti ngomong, Ri, sekarang!” Iwan buka suara setelah wajah-wajah muda itu sepenuhnya masuk ruang kuliah.
“Ya. Ayo!”. Hujan dirasa semakin deras, terutama di pekarangan saya. Saya sadar jika saya harus terlebih dahulu memayungi diri dari hujan deras itu sebelum saya siap membuatkan payung di pekarangan wajah-wajah muda itu.
Saya kemudian masuk, ditemani teman-teman yang lain.
“Junior!!”, teriak Iwan.
“Siap!!”
“Junior!!”
“Siap!!”
Saya mulai buka suara.
“Masih semangat, Junior?”
Sebagian menjawab cepat dan lantang, tapi saya tak mendengar bulat sebagai sebuah suara yang satu di ruang kuliah itu.
Saya balik badan dan mulai menuliskan A Y T E H S dengan kapur kecil di papan tulis hitam di depan kelas.
Spontan!
Spontan sekali meski saya masih basah oleh hujan yang belum juga bisa saya payungi sepenuhnya.
Saya menuliskannya sambil mengira-ngira isi ucapan saya nanti pada wajah-wajah muda itu. Saya mulai dengan “A” untuk “Apapun” dan kemudian berhenti di kata keenam. Saya rupanya sudah merasa siap mencoba meredakan hujan itu dan lantas balik badan kembali untuk menatap hujan itu lebih lekat lagi, menyisakan tulisan AYTEHS di papan tulis.
Saya mulai menunjuk huruf itu satu persatu sambil berujar wajar,
“Apapun Yang Terjadi Elo Hadapi Saja. Kenapa? Karena......”
Enam kata pembuka yang lantas berlanjut dengan puluhan, ratusan atau mungkin ribuan kata berikutnya yang saling ditimpali oleh saya, Akbar, Iwan, Alfi dan rekan-rekan yang lain. Enam kata pembuka yang kemudian memberi saya kekuatan sangat besar untuk melawan hujan kegelisahan saya yang teramat besar, terutama jika mengingat bahwa saya memang harus tenang untuk membekali wajah-wajah muda itu kekuatan untuk melawan hujan kegelisahan mereka.
Saya tidak tahu apakah 6 kata itu berhasil merajutkan payung untuk melindungi mereka dari hujan di pekarangan mereka.
Saya juga tidak tahu apakah saya bisa menanggung resiko jika 6 kata itu justru membuat mereka terperosok lebih dalam dari sekedar hujan kegelisahan.
Tapi dua hal yang pasti.
Enam kata itu adalah katalis kekuatan saya kembali.
Dan enam kata itu adalah pengikat emosi saya yang paling dalam dengan wajah-wajah muda itu hingga kini.
Termasuk ketika Buras, alias Budi Wirastomo, menuliskan kata-kata magis itu lagi sebagai komentar atas status saya yang sedang gelisah di facebook pada tanggal 15 April 2010.
dhank Ari at 7:08 AM