Monday, August 09, 2010
Jakarta, 3 Mei 2010Lama saya tak menggeluti deadline.
Belakangan ini, saya lebih banyak menggeluti frontline. Menjadi garda terdepan untuk membuka banyak jalur kemungkinan untuk berkarya di bidang audio visual, termasuk menggagas banyak kerjasama dengan beberapa pihak yang memiliki visi yang sama dengan kami.
Deadline hanya muncul sesekali di akhir pekerjaan, itu pun tak terlalu banyak karena memang pekerjaan itu pun masih datang sesekali saja. Bukan sebuah pekerjaan yang berkelanjutan. Atau setidaknya belum.
Kini, ada berjuta deadline yang akan segera saya hadapib di depan mata.
Sebuah konsekuensi.
Sebuah tikungan awal untuk mewujudkan mimpi paling berani yang pernah saya buat di pertengahan tahun 2007.
Saya jadi ingat 11 semester saya di Akademi Trans TV.
Ada banyak deadline di situ. Lari berkali-kali, naik turun lantai 3 dan lantai 2, lewat tangga darurat adalah biasa. Muka senyum terpaksa, sementara jantung berdetak lebih cepat dari Ferrari yang dipacu Schumacer di lintasan balap, adalah makanan rohani saya hampir setiap minggu, setiap hari atau bahkan setiap menitnya. Marah bukan lagi tabu. Bentakan juga tak lagi tersembunyi. Kami seperti prajurit-prajurit yang kehausan di medan perang, namun harus menunggu air embun dari dedaunan itu memenuhi gelas kami yang kosong.
Tahun 2006, saya mencoba berhenti geluti deadline. Saya memilih untuk berkarya dengan alokasi waktu yang lebih bisa membuat saya berpikir jernih.
Namun, deadline rupanya selalu mengikuti, meski kini hanya datang sesekali.
Aksi kejar-kejaran deadline seru terakhir adalah ketika Suharto meninggal.
Saat itu, saya memang sedang mengerjakan dokumenter 24 menit tentang Suharto untuk Astro Awani, salah satu kanal berita di televisi berbayar Astro TV. Setelah berbulan-bulan riset, menulis naskah dan mencari materi audio visual dari Arsip Nasional, TVRI dan beberapa Production House, saya dan Alfian Hamzah, serta dibantu PA handal Vivi Bas Edan, kami mulai merajut cerita itu dalam proses penyuntingan. Di BES studio, saat itu.
Tiba-tiba, Suharto meninggal di RSPP.
Deadline itu lantas muncul dari pojokan gelapnya, seakan ia sudah menunggu di sana untuk keluar sekonyong-konyong seperti itu. “Dokumenter Suharto harus tayang nanti malam. Harus! Sudah sampai mana, sekarang proses editnya?”
Sesuai kesepakatan, memang. Dokumenter ini memang dirancang dari awal untuk tayang pada saat Suharto meninggal. Kapanpun itu.
Alhasil, hari Minggu itu tak seperti hari keluarga yang penuh canda tawa di Taman Ria. Saya mandi seadanya dan kemudian meminta supir taksi itu berpacu secepat-cepatnya, mencoba mengalahkan waktu. Mencoba mengakali waktu. Mencoba menahan atau memundurkan waktu.
Kurang dari 12 jam, saya harus mengerjakan penyuntingan akhir itu, sementara proses penyuntingan itu baru seumur jagung. Baru dimulai beberapa hari sebelumnya, dan masih kurang 3 materi visual.
Alfian mondar mandir seperti sepur malas beroperasi di ujung stasiun. Ia juga kadang teriak dan memegangi dinding BES yang dingin. Sigaret, satu per satu mengepul tak tertahankan.
“Ah, gila ini!! Gila!!”
Saya tahu persis perasaan Alfian. Ia belum puas dengan materi yang kita dapat. Masih kurang 3 materi visual. Alfian ingin dokumenter ini sempurna dan ia tahu jika keterbatasan waktu ini bisa saja membuat banyak celah kekurangan di sana-sini.
Vivi tak henti berdoa sambil sesekali memasang wajah cemas yang besar. Ia sering terlihat menundukkan kepalanya atau sekedar menutup matanya.
Saya? Saya mencoba untuk tenang. Kembali dengan muka senyum terpaksa yang sudah lama saya latih, padahal lagi-lagi jantung saya berpacu di lintasan balap, dengan sesekali melampaui Valentino Rossi.
“Kok bisa, bro, Elo tenang?” Alfian meminta pertolongan atas detak jantungnya yang tak beraturan.
“Biasa. Udah jadi makanan sehari-hari dulu.”
Om Wendy, sang editor, untungnya tenang. Satu per satu, tahap-tahap penyuntingan ia lakukan. Saya tak berani terlalu banyak cerewet seperti biasanya. Mengejar waktu lebih utama, daripada mengejar berbagai kemungkinan maksimalisasi sisi kreatif.
Akhirnya, dua segmen pertama berhasil kami kirim dua jam sebelum tayang. Dan satu segmen terakhir, saya bawa sendiri ke Citra Graha ditemani Pak Joko, pengemudi kantor. Saya hanya meminta satu.
“Gak usah ngerem, Pak, kalau perlu!”
Sampai di parkiran Citra Graha, saya langsung lari lewat tangga darurat sampai lantai 5. Tak sampai 5 menit kemudian, materi itu tayang. Ucapan terima kasih kemudian muncul. Beberapa kali.
Setelah itu, sepi.
Sunyi lagi.
Lintasan balap sudah tutup, dan menyisakan kekosongan yang bahkan angin sekalipun tak bertiup.
dhank Ari at 7:04 AM