Photobucket - Video and Image Hosting
Monday, August 09, 2010

Jakarta, 3 Agustus 2010

Saya tak pernah ingat apa saya bisa memiliki keistimewaan untuk memilih keringat mana yang layak keluar dari pori kulit saya dan mana yang tidak. Terutama jika menyangkut pada sebuah tujuan yang baik.

Pada sebuah mimpi.

Terutama pada sebuah mimpi.

Mimpi memang kadang harus dibangun dengan berbelok sebentar pada sebuah rimba atau sekedar berhenti di rumah singgah yang bobrok.

Bagi sebagian besar orang, mimpi memang tak langsung berwujud nyata lewat jelajah pada sebuah jalan bebas hambatan atau jalan pintas. Segelintir orang mungkin bisa, tapi tak demikian bagi sebagian besar orang, termasuk saya.

Ada lumpur-lumpur yang harus saya genangi dulu. Lumpur-lumpur yang mungkin enggan dinikmati sebagian orang, terutama yang berharap tetap klimis dan dandy saat sampai di ujung mimpi.

Saya memiliki mimpi besar.

Saya punya gambaran sebuah puncak.

Namun, saya juga punya gambaran beberapa gua dan bukit terjal yang mengelilingi puncak itu.

Belum terlihat jalan pintas. Belum juga terlihat titian rapih dan nyaman yang bisa langsung membawa saya ke puncak. Apalagi lift mewah beralaskan permadani emas. Semua masih terlihat mencengangkan sambil mengira-ngira kemampuan dan senjata yang saya miliki.

Menyerah atau memilih mencari jalan lain atau diam menunggu bala bantuan sambil berkhayal?

Tidak.

Saya hanya tahu bahwa saya harus mencapai puncak itu, dimana pedang mimpi tertancap di sebuah batu besar, menungguiku untuk mencabutnya dan mengarahkannya ke matahari. Seperti tokoh superhero He-Man, yang menjajah sebagian masa kecil saya dengan kisah heroiknya yang kartun.

Makanya, saya siap masuk ke dalam gua atau mendaki bukit yang terjal itu, jika perlu.

Saya sudah menyiapkan keringat. Tak sedikitpun terlintas dalam pikiran saya untuk memilih keringat yang harus keluar dari pori, untuk mencapai puncak.

Saya tak mau manja dan hanya memilih keringat yang sepertinya bisa memberikan kepastian saja.
Hidup ini tak pernah bisa dipastikan.

Saya merasa percuma jika keringat itu hanya disimpan dan disiapkan untuk jalan terjal pilihan saja atau bahkan jalan pintasnya saja. Keringat juga perlu dilatih, bukan? Agar keringat bisa mewarnai hidup saya dan bukannya memberikan halangan bagi mata saya untuk melihat dan kekuyupan yang terlalu.

Saya bukan ngengat, yang kadang memilih keringat mereka.

Saya bukan ngengat, yang demikian antusias mendekati cahaya-cahaya palsu dari lampu yang berpijar tak abadi, hingga mereka lupa pada bunga-bunga malam yang butuh penyerbukan dari mereka.

Saya juga bukan ngengat, yang sering jadi hama petani.

Semoga saya juga tak jadi oportunis yang berpikiran pendek, yang masih memilih keringatnya sendiri untuk didenominasikan dengan nilai tukar uang.


dhank Ari at 7:27 AM



Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

____penyuka :
jazz
puisi
sastra

____jejak setapakku :
+dalam gambar
+dalam puisi
+dalam menjelajah
+dalam jalin teman

____teman :
+Ade Pepe
+abe
+alaya
+bagus
+brewok
+budi
+buyung
+dewi kekasihku
+d juice
+desan
+didit
+dita
+djim
+dreamer
+e
+fira
+gendhot
+iebud
+ienk
+indie
+irma
+kang masanom
+luigi
+mona
+nita
+ochan
+poppi
+penyair kelana
+rieka +steyla
+smara
+yuhyi
+yunus

uncle 2B

by wdcreezz.com

Name

Email/URL

Message


code
here


Designer
LX