Monday, August 09, 2010
Jakarta, 29 April 2010Menonton banyak film telah membuat saya tergugah bertubi-tubi.
Salah satunya adalah pada pemikiran saya tentang rumah Ledeng, rumah masa kecil saya di utara Bandung, Jawa Barat.
Saya pernah merasa repot karena letak rumah Ledeng yang terbenam di dalam gang padat yang sama sekali tak menyisakan lahan untuk sepetak taman atau bahkan jalanan umum yang lebih lebar. Meski tak terlalu banyak penghuni hingga harus berebut nafas, tetap saja saya merasa kurang udara. Ini terutama saya rasakan saat masih tinggal di sana, menyelesaikan sekolah menengah saya.
Saya kerap terganggu karena banyak alasan. Salah satunya adalah karena akses menuju rumah saya.
Tak mudah saat seseorang ingin bertamu ke rumah. Jika mereka membawa motor sekalipun, mereka harus mencari tempat parkir yang cukup luas di jalanan yang agak besar, yang letaknya sekitar 50 meter dari pintu rumah Ledeng. Apalagi jika mereka membawa mobil. Mereka harus menitipkan mobil mereka di lokasi yang agak kosong dengan jalanan lebih besar, lantas berjalan kaki sambil menanjak sekitar 100 meter sebelum sampai di rumah Ledeng. Paling enak, memang bagi mereka yang jalan kaki. Kesulitannya hanya pada keharusan menarik nafas lebih panjang karena jalanan yang menanjak atau karena sempitnya gang yang harus mereka lewati sementara anak-anak kecil banyak berlari-lari di sana.
Itulah makanya, saya jarang mengundang teman-teman saya datang. Saya takut malah jadi merepotkan. Lebih seringnya, saya yang menghampiri mereka atau menghabiskan waktu di luar rumah.
Tapi beberapa film mengubah pola pikir saya, terutama film-film yang mengambil setting lokasi di Italia. Salah duanya adalah The Talented Mr. Ripley dan Life is Beautiful. Dalam film itu, banyak penggambaran lokasi tempat tinggal para tokohnya yang juga terletak di jalan-jalan kecil, menyerupai gang-gang padat seperti di rumah Ledeng. Saya merasa fantastis dengan penggambaran itu. Tinggal di rumah yang terletak di dalam labirin gang dan jalanan kecil, yang kadang padat oleh manusia, nyatanya tak terlalu buruk. Mereka saja tak ambil pusing jika sulit memarkir mobil di rumah mereka, atau jika hanya bisa memiliki mobil fiat dan bukannya Mercedes Benz atau station wagon yang besar, atau bahkan jika mereka harus puas memaksimalkan penggunaan Vespa atau angkutan umum dan berjalan kaki.
Lantas, kenapa saya harus repot?
Saya memang pernah punya mimpi agar Papap punya mobil sendiri, jadi mungkin, saya atau kami tak harus melulu mengandalkan bis Damri dan angkutan umum yang seringkali menyita banyak waktu kita untuk berhenti berlama-lama di banyak titik untuk mencari penumpang. Mungkin itu yang membuat saya merasa terganggu. Dimana kami akan memarkir mobil kami?
Rupanya, saya sudah terlalu egois dengan mencoba menempatkan pemikiran saya pada pemikiran Papap. Papap adalah orang yang sangat sederhana dan praktis. Tahun 1975, rumah Ledeng ia beli, sesuai dengan kemampuannya saat itu. Ia tahu bahwa ada banyak konsekuensi saat memilih untuk membeli rumah Ledeng, termasuk tipisnya kemungkinan memiliki parkir mobil plus mobilnya itu sendiri. Atau mungkin juga Papap berpikir bahwa ia tak akan bisa secepat itu membeli mobil. Butuh bertahun-tahun menabung sebelum akhirnya bisa membeli mobil.
Tahun 1982, Papap membeli rumah lagi di kawasan Margahayu, dengan skema cicilan 15 tahun dari BTN. Papap rupanya sudah punya proyeksi untuk keluar dari rumah Ledeng dan beberapa keterbatasannya.
Sayang, harapan Papap tak semulus kenyataan. Mobil tetap tak terbeli dan rumah itu pun terpaksa di jual di pertengahan tahun 1999, karena Papap yang sakit membutuhkan banyak biaya pengobatan, sementara saya masih kerja serabutan karena krisis moneter tak menyisakan lapangan kerja bagi lulusan baru yang masih miskin pengalaman.
Tapi kemudian saya bersyukur. Rumah Ledeng kini justru menjadi rumah yang masih terbilang nyaman, saat bumi makin memanas, termasuk di Bandung yang punya catatan sejarah sebagai salah satu kota yang lumayan adem di Indonesia.
Saya masih bisa merasakan suhu 16 derajat celcius di pagi hari sambil menyeruput kopi hitam dan pisang goreng hangat.
Saya juga tak banyak harus mengisap debu hasil polusi jalanan, karena tak banyak kendaraan bermotor lewat rumah Ledeng. Motor hanya lewat sesekali, sementara mobil tak akan pernah mampu lewat di jalanan selebar 1 meter saja itu.
Iseng, saya juga sesekali membayangkan jika saya berada di San Remo, Italia.
dhank Ari at 7:01 AM