Photobucket - Video and Image Hosting
Monday, August 09, 2010

Jakarta, 20 Juli 2010

Tanpa diduga, air mata itu perlahan turun.

Bukan dari mata saya, melainkan dari mata seorang teman yang sekonyong pamit untuk pulang lebih awal.

Saya berhenti memutar kaset itu dan menatapnya sekejap.


Beberapa detik sebelumnya, ia pamit.

“Bang, pamit duluan, ya!”

“Oh, ya. Kalau besok gak ada liputan, tolong tulis time code kaset-kaset ini, ya!”

“Iya, Bang. Tapi agak siang, ya. Saya mau ngelawat dulu. Temen saya meninggal.”

Di situlah air mata itu turun.


Setelah tatapan singkat itu, spontan saya bertanya.

“Kenapa? Sakit?”

“Iya, Bang. Lever.”

Ia lantas urung meneruskan niatnya untuk beringsut turun ke lantai dasar, urung menyalakan motornya dan urung pula bergegas menuju rumah sahabatnya yang sudah meninggal itu. Ia kalah oleh air mata yang memaksanya terduduk lesu di tangga kecil menuju lorong sholat. Ia sontak menutup matanya rapat, berusaha untuk menahan laju air mata yang tak mau dibendung, sambil bercerita mengenai sahabatnya yang baru saja meninggal, satu dari empat sekawan yang sudah merenda cerita sejak mereka dipersatukan oleh institusi sekolah bernama SMP.


Tak banyak yang bisa saya katakan. Saya hanya mengajaknya berpikir perlahan dan tenang tentang semuanya. Termasuk kesiapan ia mengendarai motor ke arah Condet dalam suasana hati yang terlampau bimbang seperti itu.

Melihatnya lesu dalam duka membuat saya perlu menahan dia beberapa saat di kantor. Ia seperti tak akan bisa menahan genggaman tangannya di stang motor, mengendalikan injakan rem dan gas bahkan memusatkan pandangannya ke depan, jika gundah itu seperti duri yang sedang mencari titik-titik rawan yang bisa ditusuk hingga berdarah berliter-liter.


Sedikit banyak, saya jadi teringat Fajar, teman saya yang meninggal karena Leukemia di awal tahun 1995.

Air mata juga turun saat itu. Termasuk dari mata saya yang saat itu sedang angkuh dengan kebebasan seorang anak manusia yang seperti baru terlahir karena mulai berpikir di dunia yang nyatanya demikian kikir.

Apalagi saya ingat jika beberapa saat sebelum ia divonis menderita Leukemia, saya pernah bertengkar hebat dengannya. Satu pukulan keras dari tangan saya pernah mendarat di perut kurusnya, yang mungkin sedang bergelut dengan aliran darah yang tak sempurna. Saya menyesal luar biasa atas pukulan itu, juga atas sumpah serapah kekesalan padanya yang keluar sebelum dan setelahnya.
Saya lantas beberapa kali datang ke rumahnya, melihatnya minum susu kuda liar, sambil perlahan melihat rambutnya yang makin menipis. Sesekali saya memperhatikan kesabaran ibunya.
Saat ia meninggal, tak ada pilihan lain selain menangis.

Tak bisa dibendung air mata itu. Termasuk saat saya menuliskan kata-kata ini sekarang.
Air mata hanya berhenti di saat saya merangsek masuk di lingkaran para pelawat pagi itu. Air mata juga tak turun saat saya dan Budi Dosen membuat nisan darurat dengan menuliskan nama sahabat kami itu. Dejavu jika mengingat saya pernah menulis nama itu di catatan absen kelas setiap saat ia gagal masuk ruang kuliah.

Apa kabar kamu, sahabat?

Sudah lebih 15 tahun kamu tak bersama kami lagi. Semoga kamu baik-baik saja di sana.

Doa yang sama saya panjatkan bagi sahabat seorang teman yang meninggal beberapa jam yang lalu.


Dan, semoga kamu pun bisa menuntaskan air mata untuk sahabatmu itu dengan senyuman. Apalagi jika kamu telah berusaha semampumu untuk melepas sahabatmu pergi, untuk bertemu kembali kelak.


Amin.


dhank Ari at 7:25 AM



Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

____penyuka :
jazz
puisi
sastra

____jejak setapakku :
+dalam gambar
+dalam puisi
+dalam menjelajah
+dalam jalin teman

____teman :
+Ade Pepe
+abe
+alaya
+bagus
+brewok
+budi
+buyung
+dewi kekasihku
+d juice
+desan
+didit
+dita
+djim
+dreamer
+e
+fira
+gendhot
+iebud
+ienk
+indie
+irma
+kang masanom
+luigi
+mona
+nita
+ochan
+poppi
+penyair kelana
+rieka +steyla
+smara
+yuhyi
+yunus

uncle 2B

by wdcreezz.com

Name

Email/URL

Message


code
here


Designer
LX