Monday, August 09, 2010
Garut, 29 April 2010Ada sensasi tersendiri saat saya makan pisang. Meski mungkin hanya kadang-kadang saja, bukannya setiap saat.
Pisang memiliki tiga ruas daging yang melekat satu sama lain. Waktu saya masih berseragam putih merah (atau putih kecoklatan dan merah di akhir tahun ajaran karena seragam itu mulai usang akibat kebiasaan bermain yang tak mengenal kotor dan menunggu pengganti), saya akrab dengan tiga ruas itu.
Setiap kali disodori pisang oleh Ibu, saya seringkali memisahkan terlebih dahulu ketiga ruas pisang itu dan memakannya satu per satu dalam gigitan-gigitan kecil. Mungkin saya bosan dengan cara lama atau mungkin juga karena saya bosan dengan buah pencuci mulut yang itu-itu saja, karena di tempat saya, pisang memang buah yang bisa didapat kapan saja kita mau. Jadilah saya memulai kebiasaan yang ternyata mengasyikan itu. Ada sensasi tersembunyi, rupanya, dari buah pisang yang selama itu hampir selalu ada terhidang di meja makan.
Saya lupa waktu persisnya, tapi perlahan saya mulai meninggalkan kebiasaan itu. Mungkin itu diawali pada saat saya kuliah, karena uang makan yang pas-pasan di tanah rantau tak memungkinkan saya untuk membeli pencuci mulut. Tidak satu buah pisang, sekalipun. Apalagi es krim atau kue coklat.
Pada saat saya memiliki ruang lebih untuk membeli menu pencuci mulut, saya sepertinya sudah mulai lupa dengan kebiasaan yang mengasyikan itu. Saya lebih sering menghabiskan pisang itu cepat-cepat, atau sekedar lewat saja sebagai intermezzo dari derasnya serbuan rempah-rempah dan kolesterol.
Hari ini, di Desa Pangeureunan, Garut, saya seperti mengalami dejavu. Diawali oleh rasa sungkan saya karena terus menerus menyantap makanan di depan mata saya, karena mata yang lapar melihat aneka makanan yang menggiurkan itu, saya memilih untuk mengupas kulit pisang itu hingga hampir tandas dan memisahkan ketiga ruasnya terlebih dahulu sebelum kemudian memakannya satu per satu. Saya tahu jika saya gigit pisang itu dengan mulut saya yang besar, pisang itu tidak akan tahan lebih dari 3 gigitan. Saya berpikir, jika saya melakukan cara kedua, maka akan dibutuhkan waktu kurang lebih tiga kali lipatnya.
Dan itu berhasil.
Lebih berhasil lagi karena prosesi itu rupanya mengembalikan saya ke memori belasan tahun yang silam.
Saya merasakan sensasi yang sama.
Saya seperti baru mencicipi pisang untuk pertama kalinya seumur hidup saya.
dhank Ari at 6:59 AM