Photobucket - Video and Image Hosting
Monday, August 09, 2010

Bandung, 30 April 2010

Selesai tugas 9 hari di Garut, saya menyempatkan diri mampir di rumah Ledeng, rumah masa kecil yang akan terus menjadi istana.

Saya punya waktu beberapa jam, sebelum harus kembali ke Jakarta dan menekuni mimpi.

Seperti biasa, saya tak pernah mengabari dulu jika saya mau datang. Mamah seringnya repot sendiri jika tahu saya mau ke Rumah Ledeng. Termasuk menyiapkan makan dan segala tetek bengeknya. Saya tak perlu disambut seperti itu, Mah, biarkan saja anak nakal ini datang dengan biasa, tanpa perlu seremoni penyambutan. Apalagi, saya sudah bukan pelarian lagi, bukan lagi lone rider.

Mamah tersenyum lebar saat saya datang. Papap masih menggali memori dulu sebelum memutuskan jika anak yang satu ini adalah benar anaknya. Sindroma Parkinson perlahan telah melemahkan daya ingatnya. Sesekali Papap bahkan lupa sama sekali tentang segalanya.

Saya ajak kemudian Papap berbincang. Tentang kondisi kesehatan, tentang Dewi, tentang Mang Eded yang sempat berbincang dengan saya lewat message di facebook dan tentang pekerjaan saya. Saya bilang, saya baru pulang dari sebuah desa di kaki gunung, bikin dokumenter tentang kesadaran warga untuk membuat biogas dari kotoran sapi.

Saat saya demikian antusias bercerita itulah, saya ingat jika saya punya beberapa jepretan selama di sana, yang sudah saya simpan di dalam laptop.

Saya lantas ambil laptop dan kemudian menunjukkan foto-foto itu.

Tapi, Papap justru bingung. Dengan muka berkerut, ia terus mencoba menggapai layar laptop itu dengan tangannya. Sesekali, kuku jari telunjuknya disentuhkan berkali-kali pada layar laptop.

Awalnya, saya tak sadar dan terus mengoceh tentang ini itu, termasuk memperlihatkan foto narsis saya dengan kamera Z7 andalan. Saya pikir Papap sedang antusias menunjuk pada foto saya dan pekerjaan yang terekam di jepretan-jepretan itu.

Belakangan, saya mencoba memahami, karena kerutan di muka Papap membuat saya harus berhenti mengoceh dulu dan berpikir.

Apa mungkin karena laptop bukanlah barang yang ngetop di memori Papap?

Papap memang tak pernah punya komputer. Setahu saya, Papap hanya mengakrabi mesin tik yang lantas ia wariskan pada anak yang sialnya justru menghilangkan mesin tik itu saat kuliah di Depok. Saya juga tak pernah tanya apa Papap pernah menggunakan komputer di kantornya, di kampus IKIP Bandung. Tahun 1996, Papap benar-benar berhenti mengajar karena jatuh di kamar mandi itu telah menurunkan drastis kemampuan fisiknya yang memang sudah digerogoti Parkinson. Ia pun banyak menghabiskan waktunya di rumah setelah itu.

Pertama kali komputer menjadi anggota Rumah Ledeng mungkin baru sekitar tahun 2000. Neng Lia yang beli. Ia bilang, untuk hiburan dan menulis. Papap sudah sangat sakit waktu itu. Setelah kejatuhan keduanya dari tangga di tahun 1999, Papap nyaris total terbaring terus di ranjang, sulit berdiri dan sering kelelahan jika terduduk di kursi. Jadi saya tak ingat pernah menemukan momen Papap dan komputer.

Apalagi kemudian laptop.

Laptop benar-benar tak ngetop di memori Papap.

Laptop mungkin seperti barang luar angkasa yang baru saja dijatuhkan alien ke bumi


dhank Ari at 7:02 AM



Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

____penyuka :
jazz
puisi
sastra

____jejak setapakku :
+dalam gambar
+dalam puisi
+dalam menjelajah
+dalam jalin teman

____teman :
+Ade Pepe
+abe
+alaya
+bagus
+brewok
+budi
+buyung
+dewi kekasihku
+d juice
+desan
+didit
+dita
+djim
+dreamer
+e
+fira
+gendhot
+iebud
+ienk
+indie
+irma
+kang masanom
+luigi
+mona
+nita
+ochan
+poppi
+penyair kelana
+rieka +steyla
+smara
+yuhyi
+yunus

uncle 2B

by wdcreezz.com

Name

Email/URL

Message


code
here


Designer
LX