Monday, August 09, 2010
Depok, 12 April 2010Di awal hingga pertengahan tahun 1980-an, saya memiliki rutinitas yang mengasyikan. Hampir setiap pagi, saya mendapati Ali sudah berdiri di depan pintu rumah, siap untuk mengajak saya sekolah. Saya biasanya belum siap untuk pergi. Entah karena susu murni langganan yang belum habis saya minum, atau sepatu yang belum saya ikat. Tapi Ali sabar menunggu. Kadang, Ali akhirnya juga ikut menyantap gemblong atau bala-bala, yang Ibu beli sangat pagi pada penjual makanan kecil yang lewat depan rumah.
Lantas, saya dan Ali pun melenggang menuju sekolah. Banyak hal asyik yang kami lakukan sepanjang jalan. Tak pernah bosan. Mulai dari bernyanyi, berjalan bak seorang prajurit, balapan lari, bertingkah layaknya seseorang yang sedang mengemudikan mobil, berjalan mundur sampai melempar batu ke kawasan PLN yang penuh dengan menara listrik, yang kami lewati. Saya dan Ali selalu takut menyentuh pagar kawat yang membatasi kawasan PLN itu dengan setapak yang kami lewati, karena ada sebuah tulisan peringatan yang berbunyi “Awas! Tegangan Tinggi”.
Semuanya sungguh mengasyikan. Saya bahkan pernah terpaksa pulang kembali ke rumah untuk mengganti baju sekolah karena saya terperosok ke dalam sawah, setelah sebelumnya saya justru yang hendak berbuat iseng dengan mendorong Ali ke dalam sawah.
Pulang sekolah, jauh lebih mengasyikan lagi. Saya dan Ali punya sahabat lain di sekolah. Namanya Hendra atau Kuncung. Kita bertiga selalu pulang bersama. Banyak pula hal mengasyikan sepanjang perjalanan pulang. Apalagi, setelah menginjak kelas 3, saya dan Ali tak langsung pulang ke rumah. Kami selalu menyempatkan diri mampir dan bermain di rumah Kuncung, yang memang terletak di jalur pulang kami. Alasan lainnya, adalah karena Kuncung punya lebih banyak mainan dan bacaan daripada kami, termasuk mainan-mainan mahal yang tak sanggup kami beli.
Agenda rutin kami biasanya adalah membaca majalah Ananda dan Kuncung (inilah awal kami memanggil Hendra dengan panggilan Kuncung), bermain Atari, adu gambar, adu kelereng dan menancap mobil kayuh milik Kuncung di sebuah gang sempit. Saya dan Ali biasanya baru pamit jika sore sudah menjelang, dengan sebuah harapan jika esok kami akan bermain lebih asyik lagi.
Jadilah kami Rilicung, alias Ari Ali Kuncung, lewat sebuah konvensi khas anak-anak. Jadilah kemudian kami bersahabat, hingga sebuah institusi sekolah bernama SMP menjauhkan kami semua. Tak ingin, sebenarnya berjauhan, tapi sungguh sulit bermain bersama lagi setelah itu.
Hingga sekarang.
Namun, saya jadi punya harapan. Harapan untuk bisa membangkitkan kembali Rilicung dan maju sebagai Partai Politik yang hanya beranggotakan tiga orang saja. Saya, Ali dan Hendra alias Kuncung.
dhank Ari at 6:52 AM