Thursday, September 03, 2009
Saya tahu, waktu itu tak akan pernah kembali. Tak juga waktu yang pernah saya miliki bersama Bapak. Saya menangis, meski tak ingin mengeluarkan air mata. Terutama di depan Ibu.
Kita tak pernah sempat berbicara panjang lebar,
Pap. Saya tahu dan mungkin Bapak juga tahu. Andai saja ada ruang untuk menebusnya, memuaskan keinginan saya untuk menangkap buah pikiran Bapak. Tentang apa saja. Ada banyak yang saya kagumi dari Bapak, namun sayang sekali, saya belum banyak memahami alasannya. Belum banyak mendengar dari Bapak secara langsung. Terus terang, Pap. Saya ingin menangkap gairah dan semangatmu itu sekarang, di saat yang mungkin sudah sangat jauh terlambat.
Saya menangis, Pap, melihatmu terbaring saja di kasur itu.
dhank Ari at 6:25 AM