Thursday, September 03, 2009
Entah dosa apa lagi yang saya buat terhadap Ibu. Ibu tak salah dengan semua ucapan atau keluhannya itu. Pada siapa lagi dia akan mengeluh kalau bukan pada saya? Pada siapa lagi dia bisa bercerita? Saya kemudian membayangkan wajahnya yang kuyu, penuh dengan penderitaan selama bertahun-tahun, ditambah dengan pengabaian dari anak lelaki badungnya ini.
Entah kenapa saya selalu terperangkap dalam belitan rasa tak aman ini. Bahwa saya adalah sendiri. Bahwa kejujuran itu hanya milik diri sendiri dan Tuhan. Bahwa tak ada orang lain yang bisa menuangkan kejujuran mereka pada saya. Termasuk orang-orang dekat. Termasuk Ibu.
Apa perlu kejujuran itu?
Saya kerap berada di persimpangan, terutama karena justru ingin mendapatkan kejujuran dari orang-orang yang paling dekat. Dari mereka yang seharusnya menjadi bagian dari nafas terpenting keseharian saya.
dhank Ari at 3:40 AM