Thursday, August 24, 2006
Edisi Kenangan VW Kodok biru B 1620 UKTimothy Findley punya pandangan tentang kenangan. Menurutnya, kenangan menjaga kita untuk tetap sadar; seperti pencuci perut. Jika kita mampu mengenang, maka sepertinya kita akan mampu menyelamatkan hari ini. Kenangan seperti menjadi formulir harapan. Dia bahkan mengatakan bahwa kenangan yang buruk pun masih jauh lebih baik daripada tak punya kenangan sama sekali karena itu akan mengingatkan kita akan keberhasilan kita mengatasi hal yang buruk itu
(survival). Kenangan juga merupakan simbol damai kita dengan waktu. Hilang ingatan sering dikaitkan dengan definisi bahwa kita lupa siapa diri kita; maka ini pun berlaku sebaliknya; kita adalah siapa yang kita ingat tentang diri kita sendiri.
(Timothy Findley, Inside Memory : Pages from a Writer’s Notebook)Aku teringat Si Biru alias VW Kodok Biru, dengan biru mutiaranya.
Tidak lama lagi, VW itu mungkin sudah berpindah tangan. Bukan milikku lagi.
Tak apa, sebenarnya. Apalagi, aku tak tega membiarkannya terus di muka rumah, tanpa pernah menyentuh jalanan lagi. Tapi, aku juga tak bisa pungkiri kalau air mata seakan selalu siap untuk menegaskan kesedihan; berpisah dengan mobil tua penggagas banyak sekali kenangan.
Dulu, sebelum keempat ban baru itu terpasang gagah di body-nya, aku selalu geli dan terkadang kesal saat memacu si kodok di atas 70 kilometer per jam. Si kodok selalu goyang body-nya, melebihi goyangan bajaj. Pilihannya ada dua, memperlambat laju kodok atau justru menambah laju sampai goyangannya hilang. Seringnya aku perlambat saja lajunya. Tak mudah menambah laju mobil di jalan-jalan Jakarta. Bisa menerabas sesuatu atau mencium pantat mobil orang.
Aku seringkali berpikir, apakah goyangan ini terlihat oleh mobil yang persis ada di belakang Si Biru. Kalau memang iya, mungkin mereka akan keheranan atau sekedar tertawa geli.
Goyangan si Kodok Biru. Entah kenapa, aku kini merindukan itu. Terutama merindukan perasaan yang kerap muncul di saat-saat itu.
dhank Ari at 2:00 AM